Rabu, 20 Mei 2015

Formalisme dalam Dunia Pendidikan

Kualitas pendidikan kita dari tingkat dasar sampai tinggi belum memuaskan. Untuk tingkat dasar sampai menengah, kualitas rendah pendidikan kita ditandai dengan peringkat Programme for International Student Assessment yang terus berada pada kisaran lima terendah dari sekitar 60 negara sejak tahun 2000.
Untuk pendidikan tinggi, jumlah karya ilmiah kita masih kalah jauh dengan jumlah karya ilmiah dari negara-negara tetangga di lingkup ASEAN. Telah banyak usaha yang dilakukan pemerintah lewat berbagai kebijakan dan program mulai dari perbaikan kurikulum, model pendanaan seperti lewat dana bantuan operasional sekolah (BOS), program hibah kompetitif, perbaikan kualitas guru/dosen melalui program sertifikasi, sampai dengan pemberian otonomi ke beberapa perguruan tinggi negeri.
Sudah banyak usaha dan dana digunakan untuk memperbaiki kualitas pendidikan kita, tetapi sebenarnya yang justru mendasar dan menjadi kunci perbaikan kualitas tidak tersentuh oleh berbagai program tersebut. Malahan dapat dikatakan bahwa kebijakan dan program yang dilakukan pemerintah memperparahnya. Hal yang diperparah itu adalah formalisme dalam pengelolaan pendidikan dari tingkat dasar sampai dengan tingkat tinggi.


Yang saya maksud dengan formalisme adalah pemberian perhatian atau tekanan yang lebih besar pada aspek-aspek formal/legal kegiatan pengelolaan pendidikan ketimbang aspek-aspek yang lebih bersifat esensial dan penting terkait tujuan pendidikan. Tuntutan untuk memenuhi aspek legal/formal ini justru selalu menjadi bagian penting dan cenderung mendominasi setiap implementasi program perbaikan kualitas pendidikan yang digulirkan pemerintah.
Dalam implementasi Kurikulum 2013, yang akhirnya menjadi kesibukan utama para guru bukanlah melaksanakan model pembelajaran yang baik dan integratif, melainkan justru mengolah nilai yang rumit dan rinci karena menyangkut hampir semua aspek kehidupan siswa.
Begitu pula dalam pelaksanaan kegiatan penelitian yang didanai pemerintah, para dosen sangat disibukkan dengan pembuatan laporan keuangan yang sangat rinci dan bukan oleh kegiatan penelitian dan diseminasi hasilnya. Dalam Laporan Kinerja Dosen, setiap kegiatan juga harus disertai dengan surat tugas, bahkan bukti penulisan artikel di jurnal internasional pun baru sah kalau ada surat tugasnya. Surat tugas itu dibuat kapan dan oleh siapa tidak penting karena yang penting ada dan dilampirkan.

Taraf akut

Kuatnya formalisme di dunia pendidikan kita sudah pada taraf akut, bahkan sudah menjadi semacam ideologi bahwa hal itu menjamin kualitas yang lebih baik. Padahal, dampaknya adalah pereduksian makna dan praktik pendidikan ke wilayah formal legalistik. Pembelajaran tereduksi menjadi perkara administrasi nilai. Penelitian berubah lebih menjadi perkara pembuatan laporan keuangan. Demikian pula, kegiatan pemantauan dan evaluasi kualitas pendidikan lebih berkutat pada perkara ketersediaan dokumen dan pemenuhan peraturan.
Dengan formalisme ini akan menjadi jelas bagi kita semua mengapa pelajaran seni lebih berupa kegiatan menghafal hal-hal terkait seni karena pada akhir semester anak harus diuji secara formal pengetahuan seninya. Saya membayangkan betapa menariknya pelajaran seni ketika anak cukup diminta membawa alat musik yang paling disukai dan sekolah membantu menguasainya. Tidak perlu ada ujian mata pelajaran seni, tetapi semua anak lulus dan alangkah indahnya jika juga ada pentas yang menampilkan aksi pertunjukan mereka.
Alangkah prihatinnya kita menyaksikan anak-anak menghafal jenis tombol apa yang harus ditekan untuk menjalankan program komputer tertentu. Betapa absurdnya pendidikan kita ketika anak-anak kelas IV SD harus membaca teks padat kata-kata berbagai definisi tentang kelurahan, kecamatan, sampai lembaga tinggi negara seperti Mahkamah Konstitusi. Matematika dan Fisika yang mestinya menjadi pelajaran menarik dan menantang menjadi sangat membosankan karena aspek formalisme komputasi matematisnya yang justru menonjol dibandingkan dengan aspek pemecahan masalahnya.
Wabah formalisme ini mengalir deras sampai ke pendidikan tinggi. Dalam kegiatan seminar, memperoleh sertifikat sebagai pemakalah merupakan hal yang paling utama, sedangkan kegiatan diskusi dan debat tentang hasil penelitian cukup dilakukan sebagai basa-basi. Bahkan, ada usul menjadi guru besar yang ditolak hanya karena secara rumus matematis angka kreditnya kurang 0,4 dari syarat minimal 400. Padahal, dosen ini sudah malang melintang di berbagai pertemuan ilmiah dunia.
Formalisme ini menjadi musuh utama kreativitas dan kejujuran di sekolah. Padahal, sekolah harusnya menjadi tempat persemaian yang paling ideal bagi tumbuhnya kreativitas dan kejujuran. Mereka yang mempunyai kejujuran, ketulusan, dan kreativitas pasti akan tidak tahan menghadapi kuatnya tuntutan formalisme. Mereka akan menyingkir dan mencari tempat yang lebih sesuai. Pendidikan kita akhirnya kehilangan energi kreatif dan terperosok masuk ke dunia yang penuh dengan basa-basi yang memuakkan.
Sebenarnya peringatan akan dampak buruk dari formalisme ini pernah disampaikan rektor kedua Universitas Indonesia (1951-1954) Prof R Soepomo (Sulistyowati Irianto, 2012). Beliau mengingatkan bahwa perguruan tinggi tidak boleh ditempatkan sebagai sebuah jawatan belaka di bawah administrasi Kementerian Pendidikan. Jika demikian, perguruan tinggi akan menyerahkan dirinya pada formalisme birokrasi dan sebagai akibatnya akan membinasakan semangat akademik dan perkembangan kehidupannya.

Jauhkan formalisme

Untuk itu formalisme harus sejauh mungkin dijauhkan dari dunia pendidikan kalau kita berharap ada perbaikan kualitas secara signifikan. Pemerintah sebagai pihak utama dalam pengelolaan pendidikan dapat membantu meminimalkan formalisme ini. Dalam tugasnya menjamin dan memfasilitasi perbaikan kualitas pendidikan, pemerintah sebaiknya menggunakan instrumen yang pokok dan sederhana. Pemerintah sebaiknya lebih positif dan percaya dalam memandang dan menempatkan institusi pendidikan baik negeri maupun swasta.
Dengan cara pandang ini, institusi pendidikan harus diberi otonomi yang lebih besar dalam pengelolaan kegiatannya. Pemerintah hanya perlu fokus pada indikator keluaran kunci seperti kualitas lulusan, prestasi institusi, serta karya dan kontribusi konkretnya. Aspek lain seperti kelengkapan dokumen, pendanaan, serta model pengelolaan dipercayakan sepenuhnya kepada institusi, lebih-lebih untuk institusi swasta.
Kalau pemerintah saat ini sedang mengusung tema besar "Revolusi Mental", bagi dunia pendidikan kita, revolusi mental itu paling tepat kita wujudkan dengan mengikis mental formalisme. Mentalitas formalistik bertentangan dengan arus utama abad ini yang justru diwarnai demokratisasi, bebas struktur, dan partisipatif sebagaimana terjadi dalam dunia internet. Pemerintah harus dan dapat menjadi pihak yang paling utama menyingkirkan formalisme ini dan jangan justru kelemahan dan kelambanan birokrasinya menyuburkan mental dan praktik formalisme ini.
Johanes Eka Priyatma
Rektor Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Guru Dituntut Lakukan Terobosan dalam Teknik Pembelajaran

Guru harus mencari terobosan pada setiap proses pembelajaran untuk menumbuhkan minat dan perhatian anak didik. Cara belajar yang sekadar berdiri menyampaikan materi di depan kelas telah sangat ketinggalan zaman.

"Kini eranya digital. Sangat mungkin para guru menciptakan terobosan pembelajaran. Metode pembelajaran yang unik menjadikan materi yang disampaikan juga akan lebih bisa diterima," tutur Wakil Rektor Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Sri Suciati di sela-sela pelaksanaan Lomba Pembelajaran Inovatif untuk guru SMA dan SMP di kampus Jalan Lontar baru-baru ini. Dikatakan pembelajaran menyenangkan bisa memadukan antara seni dan teknologi informasi.
Seiring dengan itu guru tak boleh pasif. Mereka dituntut inovatif bahkan menumbuhkan inspirasi. Ini juga demi menyesuaikan kondisi zaman yang terus bergerak menciptakan banyak perubahan. Perubahan itu salah satunya kemajuan ilmu dan teknologi yang mempengaruhi dunia pendidikan.

Sumber Informasi

"Sekarang kalau sekadar mencari informasi sangat mudah melalui internet. Ini ikut memengaruhi peran guru yang dulu menjadi satu satunya sumber informasi. Namun, tak boleh lupa guru adalah pendidik yang tak sekadar memberikan informasi melainkan juga menanamkan karakter," imbuh dia. Selain bisa memikat hati siswa, maka metode pembelajaran yang menyenangkan bisa membekas di benak siswa.
Dalam pelaksanaan lomba yang berlangsung dua hari, masing masing peserta menyajikan kemampuan terbaiknya. Misalnya guru SMA PL Don Bosco Semarang Anna Sri Marlupi. Dia menyajikan pembelajaran mapel sejarah dengan diiringi alat musik gitar, papan permainan ular tangga, dan tak ketinggalan laptop.

Selasa, 12 Mei 2015

PNS bakal Banjir Duit, Juni Nanti


Surat petunjuk Menteri Keuangan (PMK) memang belum keluar. Namun, para pegawai negeri sipil bakal banji duit pada Juni mendatang. Pasalnya, mereka akan menerima rapelan kenaikan gaji enam persen sejak Januari ditambah gaji ke-13.

"Rencananya Juni rapelan kenaikan gaji direalisasikan Juni seperti tahun-tahun sebelumnya," kata Kabag Komunikasi Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) Suwardi kepada media ini, Selasa (12/5).

Gaji ke-13 biasanya dibayarkan Juli. Namun, untuk tahun ini dimajukan Juni mengingat kebutuhan pembayaran sekolah. "Kemungkinan besar akhir Juli gaji ke-13 juga cair karena kan banyak yang butuh untuk bayar sekolah anak-anak," ucap Suwardi.
PNS banjir duit

Terkait kenaikan gaji PNS, Suwardi menyatakan, ada penurunan dibanding 2014. Tahun-tahun sebelumnya, PNS golongan satu sampai tiga menerima kenaikan gaji sebesar sepuluh persen. Sementara, golongan empat sebesar enam persen.

Namun, tahun ini seluruhnya merata enam persen. "Kenaikan tahun ini memang lebih kecil menjadi enam persen. Besarannya merata untuk semua golongan (I sampai IV)," tutur Suwardi.

Dia menambahkan, setiap tahunnya KemenPAN-RB selalu mengusulkan besaran kenaikan gaji PNS di kisaran 10-15 persen. Namun, realisasinya tergantung kemampuan anggaran negara.

Kendati kenaikan gaji menurun, PNS tetap mendapatkan peningkatan tunjangan kinerja sekitar 30 persen. Besaran ini disesuaikan dengan usulan masing-masing instansi dan capaian kinerjanya JPNN

                                      Klik gambar dibawah untuk browser paling kenceng

Wapres Setuju Pembangunan Asrama Pusat Pendidikan Guru

12 rektor dari Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) mengajukan rencana untuk membangun asrama untuk program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) disebut menyetujui wacana yang diajukan.

Bahkan, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Sunaryo Kartadinata mengungkapkan bahwa JK meminta agar asrama tersebut mampu menampung sampai 60.000 calon guru yang tengah menempuh program PPG.

Rektor Universitas Negeri Jakarta Djalil menyampaikan bahwa asrama merupakan instrumen yang penting dalam membentuk jiwa pendidik seorang guru. Belum tentu semua guru bisa menguasi ilmu sekaligus memiliki jiwa pendidik di dalam dirinya.

 
Semua bermula dari keinginan 12 Rektor LPTK yang menginginkan mutu guru yang dihasilkan baik. Sehingga, menyampaikan sejumlah usulan kepada Wapres dan salah satunya adalah membangun asrama bagi calon guru.

"Kami menyampaikan beberapa pemikiran ke pak Wapres, terutama menciptakan guru masa depan. Bagaimana menciptakan pendidikan yang lebih bermutu. Sebab, guru bermutu harus dihasilkan lembaga tinggi yang bermutu," ujar Sunaryo.

Menurutnya, mutu pendidikan adalah hal utama yang harus disiapkan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Untuk itu, diperlukan sistem yang baik dari mulai perekrutan mahasiswa calon guru sampai mencetak guru yang memiliki wawasan.

Atas dasar itulah, lanjut Sunaryo, kepada JK disampaikan perlunya infrastruktur yang memadai. Sehingga, muncul wacana membangun asrama untuk 56.000 sampai 60.000 calon guru yang menempuh program PPG. Mengingat, asrama yang ada saat ini kapasitasnya sangat sedikit.

Kemudian, wacana membangun laboratorium untuk riset, inovasi dan latihan calon guru, termasuk menggurukan dosen.

"Pak Wapres memberikan pemikiran tentang labschool. Sehingga sekolah di mana pun bisa jadi labschool," ungkap Sunaryo.

Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Djali menambahkan bahwa kebutuhan akan asrama ialah kebutuhan mendesak. Sebab, menurutnya menciptakan guru dengan jiwa pendidik yang profesional ialah penting.

"Untuk berjiwa pendidik profesional maka wahananya pembinaan dalam asrama. Yang penting adalah mentransfer nilai. Guru SD (Sekolah Dasar) itu urgen butuh asrama," ungkap Djali.

Selain itu, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rochmat Wahab menambahkan dalam rangka meningkatkan kualitas tenaga pendidik maka diperlukan revitalisasi LPTK.

Oleh karena itu, mulai tahun depan, akan dimulai penerapan tes khusus untuk calon mahasiswa kependidikan, yaitu tes keterampilan olahraga dan kesenian.

Butuh Anggaran Rp 2 Triliun


“Kami juga telah menghitung, karena kebutuhan yang ada, per tahun kebutuhan 50.000 hingga 60.000 guru baru, dan kami sudah simulasikan anggarannya, tidak lebih dari Rp 2 triliun per tahun. Jadi tidak besar untuk menyiapkan dana tersebut bagi guru. Pemerintah perlu perhatian khusus untuk menyiapkan guru dengan menyiapkan kebijakan-kebijakan seperti itu,” kata Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Bandung Sunaryo Kartadinata, di Istana Wakil Presiden Jakarta, Kamis (7/5/2015) seusai bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Seperti diketahui, Direktur Pendidik Tenaga Kependidikan (PTK) Ditjen Pendidikan Tinggi Kemenristek-Dikti Supriadi Rustad sempat mengatakan bahwa tidak banyak LPTK yang membangun asrama.

Supriadi menjelaskan, sampai saat ini ada 421 LPTK. Tetapi, yang ditugaskan untuk membuka program PPG hanya ada 17 LPTK karena ternyata tidak banyak LPTK yang membuka asrama di kampusnya.

Rektor Universitas Negeri Jakarta Djalil menyampaikan bahwa asrama merupakan instrumen yang penting dalam membentuk jiwa pendidik seorang guru. Belum tentu semua guru bisa menguasi ilmu sekaligus memiliki jiwa pendidik di dalam dirinya.
"Untuk berjiwa pendidik, wahananya ialah pembinaan didalam asrama dengan 24 jam, bukan sekadar mentrasfer pengetahuan tapi dalam kehidupan asrama sebetulnya ialah transfer nilai," kata dia.
Ia mencontohkan akademi kepolisian yang dibentuk untuk menanamkan jiwa tribrata pada setiap calon polisi. Djalil juga menyampaikan bahwa Wapres menyambut baik usulan para rektor LTPK ini. Wapres, kata dia, menyampaikan bahwa pemerintah akan mulai memperhatian kebutuhan pembangunan asrama tersebut

Gagalnya Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter atau budi pekerti sebenarnya sudah tercakup dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Hanya saja, pelaksanaannya dinilai gagal mencapai amanat Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN).

Penyebab kegagalan ini antara lain, karena Kemdikbud tidak menempatkan pendidikan karakter sebagai materi yang serius. Sosialisasinya tidak memotivasi guru untuk sungguh sungguh mengelola meteri kelompok Pendidikan Agama dan Akhlak Mulia dan Pendidikan Kewarganegaraan dan Kepribadian.

Hal itu diungkapkan Ketua Pengurus Daerah (PD) Ikatan Purnakaryawan Pendidikan dan Kebudayaan (IPPK) Jateng Dr Sudharto MA dalam sarasehan memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diselenggarakan IPPK Cabang Klaten, Sabtu (9/5).

pendidikan berkarakter dinilai gagal
pendidikan berkarakter

Dia mengatakan, kenyataannya bisa dilihat di lapangan bahwa guru lebih fokus melaksanakan tugas mengajar hanya pada mata pelajaran yang masuk materi ujian nasional (UN). "Sementara kelompok mata pelajaran Agama danAkhlak Mulia kalah dengan kelompok mapel UN,"ungkapnya.

Sarasehan yang berlangsung sehari di Gedung Ganeca Delanggu itu, selain dihadiri anggota IPPK se-Klaten juga Camat Delanggu Sri Wahyuni beserta pejabat di Kecamatan Delanggu.

Memprihatinkan

Ketua IPPK Klaten Djokosutrisno mengatakan, sarasehan memperingati Hardiknas merupakan salah satu kegiatan untuk mengenang jasa tokoh pendidikan nasional yang juga pendiri Taman Siswa Ki Hadjar Dewantoro. "Ajaran beliau sampai sekarang masih sangat relevan. Di samping itu, sarasehan juga untuk lebih meningkatkan hubungan kekeluargaan antara para pensiunan pendidikan," tuturnya.

Sudharto yang menyampaikan materi mengenai "Membangun Karakter Bangsa Melalui Pendidikan" itu mengatakan, pandidikan karakter sangat diperlukan anak didik, karena melihat situasi akhir-akhir ini, baik sosial maupun kultural bangsa yang sangat memprihatinkan.

Di antaranya bergesernya nilai-nilai kehidupan, nilai-nilai budaya bangsa semakin memudar, kemandirian bangsa melemah. Hal itu diperparah dengan kurikulum pendidikan yang tidak melaksanakan pendidikan karakter. "Satu hal yang lebih penting lagi adalah belum diamalkannya dengan baik nilai Pancasila oleh warga bangsa mulai pemimpin hingga rakyat kecil," tuturnya.

Karena itu, dia mengingatkan, keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya tergantung pada peran guru, namun juga orang tua dan masyarakat. Yang perlu diperhatikan adalah bisa memberikan contoh yang baik. Dengan contoh atau teladan, anak didik akan meniru.

PLPG 2015 Sangat Krusial Buat Guru


Tahun 2015 merupakan tahun terakhir pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) bagi Guru Madrasah dan Guru PAI di Sekolah. Karena terakhir, para guru biasanya melakukan segala daya-upaya agar diikutsertakan pada PLPG tahun ini.

Demikian disampaikan Direktur Diktis, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA selaku Ketua Pokja Sertifikasi Guru Kemenag, saat membuka Kegiatan Penyusunan Soal Uji Kompetensi Awal (UKA) 2015 di Bogor, Kamis malam (7/5/2015). Untuk itu, Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) harus mencermati dengan sungguh-sungguh calon peserta PLPG 2015.

Pada kesempatan tersebut, Direktur juga menginstruksikan bahwa semua kegiatan yang dilaksanakan Diktis hendaknya dalam rangka memperkuat 5 budaya kerja Kemenag. Mulai dari integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab hingga keteladanan.
Deskripsi Penelusuran Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) akan mencermati dengan sungguh-sungguh calon peserta PLPG 2015
PLPG Sergur 2015

Dalam penyusunan soal UKA misalnya, para penyusun dituntut memiliki integritas atau kejujuran agar soal tersebut tidak bocor. Dengan begitu, soal UKA makin berbobot. Apalagi ditambah dengan PLPG yang berkualitas pula, maka akan meluluskan Guru Madrasah dan Guru PAI yang berintegritas, berdaya saing dan berkualitas tinggi.

Selaras dengan 5 budaya kerja, Guru Besar UIN Jakarta ini menyebut bahwa sertifikasi guru bertujuan menghasilkan guru profesional, inovatif, dan bertanggung jawab. Guru profesional berarti guru yang kompeten dalam melaksanakan tugasnya dan menguasai materi secara luas dan mendalam. Sedangkan guru inovatif adalah guru yang tidak jumud/statis.

Sementara itu, guru bertanggung jawab bukan sekedar mampu memenuhi tanggung jawab administratif sebagai guru. Misalnya, mengajar 24 jam seminggu, membuat RPP dengan benar, dan sebagainya. Lebih dari itu, guru harus memiliki tanggung jawab secara substantif. Dengan memiliki integritas, profesional, inovatif dan bertanggung jawab, seorang guru telah memiliki keteladanan, baik di sekolah maupun di masyarakat, jelas Direktur.

Terkait penyusunan soal UKA 2015, menurut ketua panitia, Abdullah Hanif, soal UKA disusun oleh para ahli yang diutus oleh 24 LPTK penyelenggara sertifikasi guru tahun 2015. Yaitu: 21 PTKIN dan 3 LPTK untuk Pendidikan Agama Kristen, PA Hindu dan PA Budha. Adapun soal yang disusun berjumlah 12 mata pelajaran, meliputi: Al-Qur’an-Hadis, Akidah-Akhlak, Fikih, SKI, Bahasa Arab, PAI pada Sekolah, PGMI, PGRA/PGTK, PA Kristen, PA Katolik, PA Hindu, dan PA Budha, papar Hanif, yang juga Kasubag TU Diktis.

Madrasah dianaktirikan?

Dunia pendidikan madrasah tidak tepat dikatakan menjadi anak tiri pemerintah karena telah berkontribusi besar bagi pemerintahan. “Sebenarnya istilah madrasah dianaktirikan ini tidak tepat. Saya rasa, tidak ada istilahnya dianaktirikan. Sekarang, seluruh pendidikan baik madrasah dan yang lainnya sudah sama persis. Dari sisi kelembagaan, sama. Dari segi hak-hak para guru juga sudah dipenuhi,” terang Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI Nur Kholis Setiawan, akhir pekan lalu.

Meski ia menyatakan, porsi anggaran bagi madrasah-madrasah swasta masih dirasa sangat kurang. Tapi bukan berarti mereka dianaktirikan dan tidak diperhatikan."Yang terpenting, kita terus memperjuangkan dengan argumentasi-argumentasi yang konkret dan data yang valid. Sehingga madrasah yang ada bisa semakin baik," jelasnya. Porsi anggaran untuk pendidikan madrasah, diakuinya, belum seperti yang diharapkan. Lantaran terkait dengan prosentase lembaga pendidikan di lebih dominan dimiliki masyarakat, bukan milik pemerintah.

“Tentu disitu ada aturan main tentang keuangan negara. Ketika memberikan bantuan kepada madrasah yang jumlahnya 91 persen adalah swasta,” tegasnya

Ia menjelaskan bahwa madrasah swasta dikelola dengan model swadaya atau pola-pola charity. Biasanya, dananya memang bersifat gotong royong. Terlebih lagi, kata Nur Kholism madrasah negeri yang ada sekarang hanya 8,9 persen. Sementara 91 persen lebih bersifat dikelola swasta.

“Kita harus proporsional melihatnya. Kalau kita melihat madrasah swasta ini kita lihat dulu berada di mana. Kalau madrasah yang berada di perkotaan tentu sudah bisa mapan dan mengembangkan dirinya. Tetapi bagaimana dengan madrasah swasta yang ada di daerah pinggiran, perbatasan, transmigran, atau pedalaman?” jelasnya.
Maka, ia tetap berharap agar anggaran pendidikan untuk madrasah swasta ini bisa meningkat setiap tahunnya. Sehingga madrasah-madrasah swasta yang ada di daerah bisa tumbuh dan berkembang menjadi madrasah yang ideal dan tak kalah dengan yang ada di perkotaan. republika.com

Kamis, 07 Mei 2015

PAUD akan menjadi syarat masuk SD

Pendidikan anak usia dini (PAUD) bisa menjadi investasi murah bagi masyarakat. PAUD wajib diberikan untuk anak-anak usia dini sebelum masuk ke tingkat sekolah dasar (SD).

"Pendidikan  itu harus merakyat dan berkualitas dan itu bisa didapatkan lewat PAUD. Tetapi, PAUD harus memiliki standar yang tinggi supaya bisa memberikan pendidikan dasar pada anak sebelum masuk ke tingkat SD," ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (Sesditjen PAUDNI) Kemendikbud, Ella Yulaelawati, pada pelatihan keterampilan di bidang pariwisata dan kemaritiman di Kepulauan Seribu, Sabtu (2/5/2015).


Ella mengatakan, ke depannya, PAUD akan diwajibkan kepada setiap anak sebagai salah satu syarat pendidikan sebelum masuk SD, minimal satu tahun. Tujuannya untuk memperkenalkan tata cara belajar kepada anak agar bisa memahami dengan mudah saat masuk ke tingkat SD.

"Banyak hal yang bisa dilakukan dalam memberi pembelajaran kepada anak. Belajar membaca sebagai pengetahuan dasar untuk anak, namun jangan terlalu terus-menerus membaca. Semua harus disesuaikan dengan kondisi anak supaya tidak mudah bosan," kata Ella.

Dia menambahkan, saat ini PAUD menjadi prioritas dalam memberikan penanaman pendidikan karakter pada anak. Hal ini menjadi tujuan Kemendikbud dalam Gerakan PAUD Berkualitas. Saat ini total ada sekitar 73.000 PAUD di seluruh wilayah Indonesia dan akan mendapatkan pengembangan dalam meningkatkan kualitas.

Kamis, 30 April 2015

Benarkah Matematika Begitu Menakutkan?

Benarkah Matematika Begitu Menakutkan?
Dapodik.info Pelajaran Matematika sering dianggap momok dan mengerikan bagi anak-anak. Betulkah pelajaran ini begitu dtakuti anak-anak? Pendiri Karismath Shad Moarif mengatakan, sebenarnya anak-anak tidak membenci Matematika. Mereka hanya takut gagal belajar matematika dan gagal meraih nilai yang bagus. Maka dari itu, menurut Shad harus ada perubahan dalam mengajar matematika.

"Selama ini tidak pernah ada riset yang dilakukan untuk membantu anak-anak belajar Matematika sesuai kemampuan otaknya. Guru hanya mengajar dengan cara lama tanpa memikirkan kemampuan otak anak didiknya," ujarnya, Rabu, (22/4).

benarkah mata pelajaran matematika begitu menakutkan? trik agar nyaman belajar matematika untuk siswa

Berdasarkan Trends in International Mathematics and Science Study, pembelajaran Matematika di Indonesia peringkat 38 dari 42 negara. Artinya kualitas pembelajaran Matematika di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Mempertimbangkan hal itu, terang Shad, Karismath hadir untuk memberikan cara belajar Matematika universal dan fleksibel. Diharapkan ini bisa melengkapi konsep Matematika yang sudah menjadi kurikulum di sekolah-sekolah.

"Karismath mengajari anak-anak belajar Matematika dengan metode struktur visual yang menciptakan garis besar dari jalur belajar alami. Metode ini dimulai dengan menggunakan gambar tanpa angka, kemudian secara perlahan bergerak ke konsep pengoperasian Matematika."

Menurut Shad, dengan menggabungkan teknik Psikologi dan Matematika, proses pembelajaran Matematika menjadi efektif karena anak-anak dapat mempelajari banyak materi. Selain itu, Karismath juga berupaya membantu orangtua agar tak kesulitan dalam membantu anak belajar sehingga proses belajar matematika jadi menyenangkan.

Salah satu cara belajar Matematika di Karismath menggunakan animasi. Misal dengan gambar buaya, ikan, jeruk, ceri, manusia. Sehingga anak-anak menjadi senang diajak berpikir tanpa merasa tertekan.

Rabu, 29 April 2015

Lomba OSN Guru tahun 2015


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN  (BPSDMPK-PMP) pada tahun 2015 menyelenggarakan lomba untuk guru bertitel Olimpiade Sains Nasional (OSN) Guru tahun 2015.

Olimpiade Sains Nasional Guru merupakan wahana bagi guru untuk menumbuhkembangkan semangat kompetisi akademik dan memotivasi guru dalam rangka peningkatan kompetensi di bidang
MIPA agar mampu meningkatkan mutu pendidikan.
Olimpiade Sains untuk guru SD, SMP, SMA dan SMK tahun 2015. lihat panduan, syarat peserta OSN guru 2015
osn guru 2015


Bidang Pelajaran yang Dilombakan

1. Matematika dan IPA  : untuk guru SD
2. IPA : untuk guru SMP
3. Matematika : untuk guru SMP dan SMA/SMK
4. Fisika  : untuk guru SMA/SMK
5. Kimia  : untuk guru SMA/SMK
6. Biologi : untuk guru SMA/SMK


Waktu penyelenggaran seleksi

1 Seleksi tingkat Kabupaten/Kota Mei 2015
2 Seleksi tingkat Provinsi 9 Juni 2015
3 Seleksi tingkat Nasional September 2015

Seleksi tingkat kabupaten/kota dilaksanakan melalui tes tertulis oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Materi soal mencakup kompetensi pedagogik dan profesional.

Persyaratan Administrasi Peserta
 
  • Guru SD, SMP, dan SMA/SMK yang berstatus pegawai negeri  sipil (PNS) atau bukan PNS yang memiliki Surat Keputusan sebagai guru tetap yayasan (GTY).
  • Mempunyai Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK).
  • Tidak sedang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah atau sedang dalam proses pengangkatan sebagai kepala sekolah atau sedang dalam transisi alih tugas ke unit kerja di luar satuan pendidikan.
  • Mempunyai masa kerja sebagai guru secara terus-menerus, sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun dibuktikan dangan SK CPNS atau SK Pengangkatan bagi guru bukan PNS.
  • Belum pernah meraih medali emas, perak, atau perunggu pada OSN-Guru.
  • Memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana (S1) Pendidikan/Nonkependidikan. 
  • Bidang lomba yang diikuti sesuai dengan tugas yang diampu.
  • Untuk seleksi tingkat provinsi peserta wajib menyerahkan  rekaman video proses pembelajaran di sekolah disertai dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Rekaman video berdurasi maksimum 20 menit disimpan dalam CD/flashdisk yang dibagian luarnya dilengkapi dengan identitas diri (Nama, Sekolah, Kab./Kota, Provinsi). Rekaman dimaksud merepresentasikan aktivitas pembukaan, inti, dan penutup pembelajaran. Topik pembelajaran disesuaikan dengan cakupan materi pada bidang yang dilombakan (yang diampu) dan terdapat pada lampiran ini.   
  • Untuk seleksi tingkat nasional peserta wajib menyerahkan:

  1. rekaman video proses pembelajaran di sekolah disertai  dokumen RPP, 
  2. risalah akademik akademik disertai dengan bukti-bukti  yang esensial, dan
  3. karya ilmiah/karya pengembangan profesi/praktik  pembelajaran terbaik (best practices) atau karya inovatif terbaik perorangan yang pernah dihasilkan (bukan skripsi, tesis atau disertasi) lima tahun terakhir,
Nah bagaimana bapakibu guru, ayo ikutan lomba Olimpiade Sains Nasional Guru 2015, buktikan Anda bisa. untuk panduan lengkap OSN guru 2015 bisa dibuka di tautan ini